Gubuak Kopi di Solok Book Fair

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada tanggal 20-28 Februari 2017, Komunitas Gubuak Kopi diundang oleh Perpustakaan Umum Kota Solok untuk mengisi beberapa agenda kegiatan di  Solok Book Fair 2017. Kegiatan ini adalah kegiatan pertama di Kota Solok. Dalam hal ini Perpustakaan Umum mengangkat tema “Kota Solok, Menuju Kota Literasi”. Memang kegiatan ini tidak begitu berhasil menyita perhatian publik, terutama minimnya publikasi dan strategi-strategi dari dinas terkait dalam menjabarkan tema tersebut. Namun, kegiatan cukup menarik untuk tahap awal.

Dalam Solok Book Fair, kali ini, Komunitas Gubuak Kopi menempati beberapa agenda, seperti: Penampilan remaja-remaja yang sebelumnya dilatih oleh Komunitas Gubuak Kopi di Kampung Jawa. Remaja-remaja ini, diantaranya Dholy dan Palito Alam, menyajikan pembacaan puisi. Selain itu juga ada beberapa remaja yang menampilkan kesenian Talempong Pacik. Remaja-remaja ini sebelumnya pernah dilatih oleh Komunitas Gubuak Kopi, sebagai bagian dari lokakarya, aktivasi perpustakaan nagari melalui kegiatan kreatif dan pelatihan media.

Perpustakaan Nagari yang dimaksud, berada di persimpangan RW III Kelurahan Kampung Jawa. Dalam kegiatan tersebut, Komunitas Gubuak Kopi mengajak remaja, pemuda, dan warga secara umum untuk memberdayakan kembali perpustakaan kelurahan ini sebagai ruang berbagi pengetahuan dan kreativitas. Di sini Komunitas Gubuak Kopi lebih mengedepankan peran partisipasi remaja. Di sini, remaja diajak untuk berkreativitas dengan serangkaian kegiatan lainnya seperti latihan membaca puisi, club baca berjamaah, memainkan kesenian tradisi, daur ulang, dan melukis dinding (mural).

Sembari mengembangkan minat baca itu sendiri, Komunitas Gubuak Kopi, mengajak remaja untuk bergotong royong dan menghias sendiri perpustakaan itu sesuai perkembangan terkini yang mereka minati. Lokakarya itu berlangsung kurang lebih tiga minggu dan dirayakan dengan kegiatan “Pesta Babaliak Ka Pustaka Nagari”. Kegiatan ini menjadi tempat presentasi publik hasil dari lokakarya. Di sini, remaja-remaja menampilkan kreativitas yang dipelajarinya. Serta di ruang utama perpustakaan, kakak dari Komunitas Gubuak Kopi juga memamerkan beberapa buku-buku yang relevan dengan situasi dan potensi yang ada di Kampung Jawa, Kota Solok ini. Seperti buku-buku tentang berkebun, beternak, budaya, dan agama. Sembari mengundang warga untuk melihat, tidak lupa Komunitas Gubuak Kopi mengkampayekan pada warga yang hadir, bahwa perpsutakaan ini, kini memiliki referensi yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan kita di Kampung Jawa. (baca juga: Babaliak Ka Pustaka Nagari)

Tamanbelajar.gubuakkopi di pembukaan Solok Book Fair.

A post shared by Komunitas Gubuak Kopi (@gubuakkopi) on

Metode dan upaya  yang dilakukan Komunitas Gubuak Kopi bersama remaja dan pemuda di atas, juga dipresentasikan di rangkaian kegiatan Solok Book Fair 2017. Kegiatan ini sengaja kita usulkan, dan mengundang para pegiat literasi dan mahasiswa Ummy untuk mendapatkan evaluasi dari kegiatan tersebut. Dalam hal ini, saya sebagai penjabar presentasi juga melemparkan pertanyaan-pertanyaan menarik terkait kontinuitas kegiatan ini. Komunitas Gubuak Kopi, tentu tidak akan bisa menghendel kegiatan ini terus menerus. Untuk itu Komunitas Gubuak Kopi, dari awal ingin warga dan pemuda terlibat secara aktif. Namun, harus kita akui Komunitas Gubuak Kopi baru berhasil menggaet beberapa pemuda dan remaja saja. Memang dalam kegiatan presentasi publik “Pesta Babaliak Ka Pustaka Nagari” warga yang hadir cukup ramai, Bapak Lurah dan beberapa tokoh masyarakat juga hadir. Bapak Lurah sendiri, dalam diskusi singkat bersama saya, sangat apresiasi dan ingin memasukan listrik di perpustakaan yang sudah lama mati ini. Begitu juga Haji Eri, yang ingin memasukan akses internet jika listrik sudah masuk. Namun, kebijakan lurah tentu baru dapat direalisasikan di anggaran tahun berikutnya dan tentu kita juga membutuhkan pengurus perpustkaan yang baik. Persoalan ini, juga saya lemparkan pada peserta diskusi yang hadir, termasuk dari pihak perpustakaan umum, terkait pengurusan perpustakaan ini.

Pihak Perpustakaan Umum, sebelumnya Ibu Wen, berharap tahun berikutnya Perpustakaan Umum dapat menambah koleksi buku-buku di sana. Serta hal lain yang kita harapkan adalah pemerintah dapat menghadirkan seorang pengelola perpustkaan yang terlatih untuk mengembangkan perpustakaan ini berikutnya.

Kegiatan Solok Book Fair ini berlangsung pada tanggal 20-28 Februari 2017. Selain dari Komunitas Gubuak Kopi, juga terdapat beberapa kegiatan lain, seperti diskusi bersama penulis Boy Candra, Pameran Buku oleh Gramedia, dan Pelatihan Menghadapi Ujian Nasional untuk remaja sekolah menengah.

Postingan Terkait

Albert Rahman Putra (Solok, 31 Oktober 1991) adalah lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Pernah terlibat dalam Proyek Seni DIORAMA Forum Lenteng. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *