Tumbuhkan Minat Baca Anak Nagari

Klarifikasi dari Komunitas Gubuak Kopi atas pemberitaan Padang TV, bahwa Perpustakaan Nagari yang disebutkan oleh pembaca berita bukan didirikan oleh Komunitas Gubuak Kopi. Dalam konteks ini, Komunitas Gubuak Kopi hanya berperan mendorong pemuda dan remaja untuk mengaktivasi perpustakaan ini melalui kegiatan goyong royong, seni dan kreatif. Demikian klarifikasi yang sudah disampaikan kepada jurnalis yang bersangkutan.


Babaliak ka Pustaka Nagari adalah kegiatan yang diinisiasi oleh Komunitas Gubuak Kopi dalam rangka memperkuat masyarakat sipil melalui gotong-royong, serta mengaktivasi ruang publik sebagai ruang berbagi pengetahuan dan ruang berkreativitas warga. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi bersama pemuda-pemuda lokal di Kelurahan Kampung Jawa, Solok. Kegiatan ini mendorong remaja untuk mengembangkan gotong-royong melalui kegiatan kreatif dan kesenian, mengaktivasi perpustakaan milik kelurahan dengan rangkaian kegiatan, seperti pelatihan mural, pelatihan kesenian tradisi, membaca sastra, membaca puisi, dan workshop daur ulang. Kegiatan tesebut berlangsung sejak 28 Desember 2016.

 

Kurator
Albert Rahman Putra

Fasilitator
Delva Rahman
Dhela Pertiwi
Dinova Rillyade
Tiara Sasmita

Dokumentasi
Dhela Pertiwi
Taufik Saputra.

Seniman Partisipan:
Volta Ahmad Joneva
Raenaldi Andrean
Zola Alfiandra
Muhamad Risky
Zekalver Muharam
Teguh Wahyuandri

Produksi
Komunitas Gubuak Kopi & Pemuda Kelurahan Kampung Jawa, Solok.

Postingan Terkait

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *