Proses “Babaliak ka Pustaka Nagari”

Babaliak ka Pustaka Nagari (Kembali ke Pustaka Nagari) adalah salah satu kegiatan yang digagas oleh Komunitas Gubuak Kopi bersama pemuda di Kelurahan Kampung Jawa, Solok, untuk mengaktifkan kembali serta meningkatkan fungsi pustaka di tengah warga kelurahan, maupun di sekitarnya. Sejak bulan September lalu, rekan saya Albert Rahman Putra dan Delva Rahman telah memulai risetnya mengenai lembaga-lembaga milik warga yang stategis untuk berbagi pengetahuan. Selain itu beberapa bulan terakhir kita yang kurang lebih satu tahun di kelurahan ini, mulai lebih giat lagi bertemu tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh adat, pemuda, untuk menggali persoalan-persoalan yang mungkin selama ini kami lengah. Hal ini sejalan dengan tema besar yang akan diangkat Komunitas Gubuak Kopi selama 2017 nantinya, yakni: Mengembangkan peran partisipasi warga dalam mengaktivasi ruang-ruang distribusi pengetahuan melalui kegiatan berbasis media tentang lingkungan dan kebudayaan lokal, salah satunya ruang itu terdapat dalam bentuk fisik: Pustaka Nagari.

Setelah melihat perpustakaan sebagai ruang yang penting untuk dikembangkan, Albert dan Delva melihat lebih dalam Pustaka Kampung Jawa yang berlokasi di seberang Madrasah Ibtidaiyah, Kelurahan Kampung Jawa, atau di depan Masjid Nurul Yaqin. Menurut Delva, keadaan Pustaka Nagari saat ini sangat memprihatinkan. Terutama, ketika kita tahu bahwa perpustakaan ini sebelumnya adalah tempat yang sering dikunjungi warga dan anak-anak setempat. Namun belakangan mulai sepi, oleh banyak sebab tentunya. Yang paling general, adalah permain-permainan di internet, kurangnya minat membaca dari warga, serta tidak adanya pendistribusian buku-buku baru dari pemerintah maupun lembaga lain yang membuat pustaka ini seolah-olah mati suri. Maka dari itu, Komunitas Gubuak Kopi berusaha untuk menghidupkan kembali perpustakaan di Kampung Jawa serta wilayah Kota Solok lainnya. Menghidupkan kembali tidak semata-mata menjadikannya ramai saja, tapi harapan kami adalah bagaimana perpustakaan ini nantinya tidak hanya sebagai tempat tersimpannya buku-buku yang bisa dipinjam saja, tetapi juga menjadi ruang bertemunya warga, berbagi informasi di sekitar, berkreatifitas, tempat arsip-arsip muatan lokal, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan berbagi pengetahuan. (baca juga: Pertemuanku dengan Ibu Rosmini dan Bertandang ke Perpustakaan Nagari)

Jpeg

Kegiatan yang disusun oleh Komunitas Gubuak Kopi ini, pada dasarnya sangat didukung oleh tokoh masyarakat setempat, dan kelurahan. Kelurahan sendiri juga mengaharapkan hal yang sama, dan mempercayakan tugas ini pada Komunitas Gubuak Kopi. Langkah awal yang kami lakukan adalah merenovasi Pustaka Nagari Kampung Jawa. Maksudnya adalah merubah wajah perpustakan itu terlebih dahulu, bahwa perpustakaan adalah tempat yang tidak berjarak dengan kita dari segala generasi, tua, muda, remaja, anak-anak. Untuk itu Komunitas Gubuak Kopi, mencoba mengumpulkan kawan-kawan pemuda di Kelurahan Kampung Jawa. Walaupun tidak banyak yang bisa berkumpul waktu itu, tapi mereka sangat bersemangat, terutama generasi anak-anak setingkat SD sampai SMA.

Pemuda-pemuda kampung Jawa juga mendukung kegiatan positif ini. Komunitas Gubuak Kopi bersama Pemuda Kampung Jawa mencoba menyulap pustaka tersebut menjadi lebih bersih, indah dan menarik. Minggu, 25 Desember, semuanya telah terencana dan kami segera mempersiapkan poster yang akan disebar kepada penduduk Kampung Jawa. Siang itu, rekan saya Albert segera menghubungi Pak Lurah serta Bu Rosmini (Kepala perpustakaan) dan mereka juga sangat tertarik dengan apa yang akan kami kerjakan. Saya, bersama Albert, Volta, dan Renal mendatangi Bu Rosmini untuk menyediakan cat alat-alat yang kami butuhkan. Selain itu, Bu Rosmini kembali mengingatkan Albert tentang rencana sebelumnya untuk melatih  Ibu-ibu Bundo Kanduang (organisasi ibu-ibu kelurahan berbasis adat) di Kampung Jawa untuk bermain talempong (kesenian tradisi Minangkabau). Albert menanyakan ketersediaan talempong dan mengecek bunyi dari semua talempong yang ada. Semua talempong nampak baru dan sepertinya jarang dipakai dan bunyinya pun masih sangat bagus. Setelah Albert selesai mengecek semua Talempong,  kami berpamitan kepada Bu Rosmini, sebelumnya Albert menyatakan kesediannya untuk melatih ibu-ibu, dan meminta latihannya tidak usah di kantor Komunitas Gubuak Kopi, tetapi di perpustakaan saja.

Sorenya, saya beserta rekan-rekan Gubuak Kopi bersama Uda Yoga,pemuda kampung Jawa menyebarkan poster pemberitahuan kegiatan ini. Poster-poster itu kami sebarkan di warung-warung sekitaran Kampung Jawa, Pondok Jus, Masjid, serta di titik-titik tertentu wilayah Kampung Jawa lainnya.

Senin pagi, 26 Desember, kami segera mendatangi Pustaka Nagari Kampung Jawa. Kedatangan kami disambut antusias oleh warga di sana. Uni Des yang berjualan lontong tepat di depan pintu masuk Pustaka menyuguhkan kami pregedel untuk sarapan. Setelah makan, Volta dan Renal mulai membersihkan dinding-dinding pustaka yang akan disulap untuk menampilkan kesan yang baru dari Perpustakaan Nagari. Mereka mulai dari ujung dinding pustaka agar warga yang menyantap sarapan di depan pintu pustaka tadi tidak terganggu. Kami beristirahat sejenak setelah beberapa jam membersihkan dinding-dinding dan akan kembali siangnya. Setelah Zuhur, kami lanjut bekerja. Kegiatan kami kali ini didominasi oleh warga cilik Kampung Jawa. Saya bersama Zaza dan beberapa adik-adik lainnya mendaur ulang botol-botol oli bekas yang kami dapatkan di bengkel Andeska yang tak jauh dari kantor Komunitas Gubuak Kopi. Anak laki-laki yang lain bertugas membersihkan dinding dari sisa-sisa cat. Volta bertugas menyusun sketsa  dan membuat garis-garis yang nantinya bisa ikut dicat oleh adik-adik yang tertarik ikut membantu. Renovasi perpustakaan ini kita targetkan untuk selesai selama dua minggu ke depan. Selanjutnya, kami akan berusaha menyediakan buku-buku baru bagi Pustaka Nagari ini agar kita semua, dapat meng-upgrade pengetahuan kita. Setidaknya hingga April 2017, Komunitas Gubuak Kopi telah mengagendakan beberapa kegiatan bersama perpustkaan dan melibatkan warga setempat dan seniman-seniman jejaring untuk berpatisipasi. Kedepannya Kami harapkan dengan adanya perpustakaan ini warga dapat memanfaatkan untuk segala kemungkinan yang bisa mempererat solidaritas, menjaga lingkungan, beraksi lokal dengan wawasan global.

Latihan Talempong

Seperti yang telah dijadwalkan sebelumnya, Albert melatih ibu-ibu Bundo Kanduang untuk bermain talempong. Hari itu, Jumat sore, 30 Desember 2017, ibu-ibu Bundo Kanduang memanfaatkan perpustakaan untuk mengadakan pertemuan rutin mereka. Seperti biasa, pertemuan ini diawali dengan pembacaan ayat suci al quran, menyanyikan lagu “Bundo Kanduang”, lalu mengaupdate informasi-informasi terbaru terkait organisasi Bundo Kanduang sambil menyantap kolak durian. Setelah itu barulah Albert diminta untuk melatih ibu-ibu ini untuk bermain talempong.

dsc01685

Sebelumnya, Albert memperkenalkan gambaran besar tentang kesenian talempong itu sendiri. Seperti yang dikatakan Albert, alat music talempong adalah salah-satu alat musik yang terdapat hampir diseluruh kenagarian (kampung) di Minangkabau. Berbeda dengan kesenian Gandang Tambua Tasa yang hanya terdapat di Maninjau dan Pariaman, Indang, Rabano, dan kesenian lainya yang hanya tumbuh di daerah-daerah tertentu. Keberadaan Talempong yang tersebar di setiap kampung itu juga memberikan keberagaman terkait permainan kesenian talempong itu sendiri. Seperti lagu yang berbeda-beda dan khas di setiap kampung. Lalu Albert juga menjelaskan tentang kapan saja kesenian talempong dimainkan, dalam kegiatan apa saja ia dimainkan selain agenda-agenda pariwisata atau festival kekinian. Lalu Albert juga menambahkan bagaimana permainan talempong ini telah berkembang, menjadi talempong goyang, pengiring band, dan lain sebagainya.

 

Latihan dimulai dengan lagu (pola permainan) yang paling sederhana. Albert meminta setiap ibu-ibu yang hadir mencobakannya secara bergilir. Ibu-ibu sangat girang dapat mencoba memainkan talempong ini. Tidak terasa, latihan telah lebih dari satu jam, dan di luar dugaan ternyata hari itu satu lagu langsung dapat dimainkan dengan cukup baik oleh ibu-ibu ini. Sebelum pulang tidak lupa Albert mengingatkan ibu-ibu untuk terus berlatih dan sering-sering ke pustaka yang elok ini.

______________

Kampung Jawa, Solok.

02 Desember 2017

 

Postingan Terkait

Tiara Sasmita (Solok, 31 Desember 1991) adalah mahasiswi di Universitas Andalas, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Inggris. Saat ini aktif di Gubuak Kopi sebagai Bendahara Umum. Ia juga aktif di Komunitas Cermin, sebuah komunitas teater di Fakultas Ilmu Budaya di kampusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *