Pengantar “Merawat Tubuh Tradisi”

Praktek-praktek mengenai kesenian tradisi di Solok, Sumatera Barat, hari ini hadir dengan motif yang beragam. Sebelumnya, kesenian tradisi hadir secara organik di tengah komunitas pendukungnya, sebagai bagian yang hidup dari kebudayaan mereka. Motif istemewa dari kehadirannya secara organik tersebut, adalah sebagai produk kolektif dari warga yang merefleksikan nilai-nilai kebudayaan. Sehingganya, kesenian tidak hanya menempatkan posisi sebagai hiburan warga, melainkan hadir sebagai bukti kekuatan sosial dalam mengemban identitas lokal.

Di Solok, terdapat cukup banyak kesenian yang pernah hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Kesenian-kesenian itu baik berupa hiburan rakyat, upacara ke-adat-an, maupun hal yang bersifat ritual atau religius. Hampir tidak ada dari kesenian tersebut yang terpisah dari kesadaran solidaritas: “satu kampung, satu keluarga”. Hampir setiap elemen masyarakat terlibat dalam proses pelaksanaannya. Dalam kesenian Randai misalnya, dari narasi para tuo-tuo adat, teater rakyat ini hadir dan dimainkan oleh warga lokal itu sendiri. Sementara pemuda yang tidak ikut main akan terlibat sebagai organizer, ibu-ibu memasak untuk kudok-kudok (cemilan), lalu para bapak-bapak sebagai penasehat. Mereka semua adalah pelaksana dan juga penonton dari kesenian yang mereka usung dan mereka hidupkan.

Hari ini, randai juga digarap oleh ‘sanggar’ yang satu kelompok, anggotanya bisa terdiri dari orang-orang dengan kampung yang berbeda-beda. Hal ini juga sejalan dengan perubahan sosial yang membuat masyarakat kehilangan waktu untuk merayakan kebesamaan mereka, — dengan kesibukan (pekerjaan-pekerjaan) yang lebih menjanjikan secara finansial, di saat yang sama, — hampir tiap kampung tidak lagi memiliki grup randai sendiri. Sehingga yang tertarik harus mengumpulkan rekanan dari berbagai kampung. Tapi tidak dipungkiri masih terdapat beberapa desa atau jorong yang masih memiliki grup randai sendiri, yang terdiri dari pemuda-pemuda lokalnya dan menerapkan pola lama dalam merayakan kebersamaan mereka, dan di saat yang sama – seperti sanggar randai lainnya – terus berlatih, dan siap menunggu pesanan untuk perayaan berbagai pesta dengan organizer profesional, maupun di-organize oleh pemuda kampung lain.

Begitu juga dengan tradisi Bailau (melakukan ilau), adalah tradisi menangisi kematian salah satu anggota keluarga kampung. Kematian yang “berkosekuensi” pada rasa kehilangan anggota keluarga, dan kemudian mamancing para ibu-ibu terdekat menangisi dan meratapinya, dengan pantun-pantun kesedihan, dan menyebut segala kebaikan sebagai penyesalan, melantunkannya dengan melodi serta gerak-gerak kesedihan (memukul tanah, berguling, dan merayap-rayap dalam arti tidak berlebihan). Para pelayat lainnya akan berusaha menghentikan ratapan tersebut, dan di saat yang sama juga terpancing untuk melakukan ratapan itu.

Kini ilau hadir dan dikenal sebagai sebuah kesenian, ia hadir di festival-festival seni ataupun ulang tahun Kota Solok, dipromosikan sebagai sebuah identitas lokal, diorganize oleh swasta dalam motif-motif pariwisata. Ilau kali ini diperkenalkan sebagai ritual kematian anak di Rantau, dan tidak bisa dipulangkan ke kampung halaman karena persoalan transportasi pada masa dahulu, lalu jenazah digantikan batang pisang dan dibaluti serta diupacara selayaknya jenzah asli. Tradisi ini dianggap telah lama hilang, terutama sejak lancarnya transportasi, dan kontroversi beberapa tokoh agama, yang mengedepankan dalil rasulullah untuk tidak meratapi mayat. Walaupun menurut Tan Ali, salah seorang tokoh Adat Solok, tradisi itu masih hidup hingga sekarang (dalam konteks bailau pada kematian), dan memang porsinya tidak seperti dulu lagi ketika orang-orang mampu membuat pantun yang tajam secara spontan.

Melodi-melodi kini dikonstruksi ulang oleh sanggar-sanggar. Tidak hanya melodi, pada ilau kali ini juga dilengkapi dengan koreografi serta drama-drama yang mengumpan kesedihan. Konstruksi inilah yang kemudian diperkenalkan sebagai sebuah tradisi sebagai kematian anak di perantauan, di saat yang sama ilau (seperti yang dikatakan Tan Ali) dianggap terpisah dari tradisi ini (Albert Rahman Putra, 2015).

Motif kehadiran ilau kini di lihat sebagai sesuatu yang penting untuk diundang dalam festival, trutama karena keunikannya (kematian anak dirantau dan digantikan batang pisang, permaianan pantun kesedihan) dan juga ia bernilai komersial jika diberhasil diperkenalkan pada masyarakat sebagai sesuau yang langka dan khas lokal (motif ini juga banyak terjadi pada kesenian tradisi Minangkabau lainnya, dan didukung oleh infrastruktur pemerintahan). Lalu ia dilihat sebagai prosesi keindahan (produk kebudayaan) yang telah kehilangan tempat untuk hidup secara organik.

“Kehilangan tempat” atau kehilangan ruang organik, dalam hal ini juga menjadi kasus yang sama dalam tradisi Indang (di) Muarolabuah. Beberapa waktu lalu seorang teman yang juga merupakan seorang “datuak mudo” di kampungnya menyampaikan sebuah persoalan yang dialami para pelaku Indang ini. Konteks kehadirnya sebenarnya masih relevan untuk saat ini. Ia biasa dihadirkan sebagai wejangan ritual keagamaan di Muarolabuah. Namun, ruang itu sulit sekali untuk ada karena proses yang cukup rumit. Namun, para seniman yang rata-rata sudah tua, tetap menginginkan eksistensi kesenian ini di masa mendatang, sekalipun ia tahu tidak banyak generasi baru yang terpikat pada kesenian ini. Sebagai usaha unjuk gigi, dan memotivasi beberapa pemain barunya mereka juga menginginkan indang tampil di luar konteksnya.

***

Gambaran praktek-praktek kesenian itu kini pada dasarnya merupakan bentuk-bentuk tradisi baru yang diperkenalkan sebagai tradisi lama. Kesenian Tradisi lama bagi saya telah ‘kehilangan nyawa’ yang sebelumnya hidup secara organik sebagai sebuah puncak-puncak kebudayaan. Lalu kini ia dihadirkan kembali dengan motif sebagai ‘tubuh-tubuh unik dengan formalin’, yang kemudian dipanggil kembali untuk hidup’. Pembacaan ini bagi saya juga menghadirkan kekawatiran, bahwa melihat tradisi sebagai ‘barang antik’ yang kemudian dipajang untuk mendapatkan profit semata, tetapi pembacaan ini saya harap juga bisa menjadi awal yang baik, untuk menghidupkan kembali tubuh-tubuh yang terawat itu dengan nyawa yang lebih segar.

Agenda ini akan menghadirkan beberapa pertunjukan yang akan diisi oleh Beberapa pegiat seni tradisi di Kota Solok, tepatnya dari Tanah Garam, yang akan mempresentasikan gaya Randai serta silat yang mereka dalami; dan kelompok Indang Saiayo Sampu (Mauarolabuah, Solok Selatan) yang akan mempresentasikan gaya silat dan pertunjukan Indang dengan durasi yang cukup panjang. Dua kelompok seniman ini, secara administratif pemerintahan pada dasarnya adalah berasal dari daerah dengan kepala pemerintahan yang berbeda, namun secara kultur mereka masih dalam satu payung kebudayaan: Solok. Selain mengajak para kelompok ini mempresentasikan konsep, yang menjadi nyawa dari kesenian mereka usung, agenda ini juga diharapkan menjadi embrio yang nantinya akan bisa dilanjutkan oleh masing-masing kelompok dalam melakukan pertunjukan (pelestarian) seni tradisi, dalam hal ini menyertakan distribusi pemahaman konteks melalui diskusi dan tanya jawab, melalui julo-julo galanggang (arisan/penggiliran tempat).

Albert Rahman Putra,

Solok, 2016


Kelas Warga Edisi Juni: Merawat Tubuh Tradisi

Sabtu, 04 Juni 2016
19.30 Wib
di Gelanggang Gubuakkopi.

 

Postingan Terkait

Albert Rahman Putra (Solok, 31 Oktober 1991) adalah lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Pernah terlibat dalam Proyek Seni DIORAMA Forum Lenteng. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *