DOC. SINEMA POJOK 6

Mengenal dan memahami pesoalan lokal dengan wawasan global

Pada nomor Sinema Pojok ke 6, Komunitas Gubuak Kopi menghadirkan dua gaya filem yang berbeda. Filem pertama adalah “Bridge Go-Round” karya seorang experimental filemmaker asal Amerika: Shirley Clarke. Filem berdurasi 4 menit ini dirilis pada tahun 1958 di Amerika. Menyajikan footages sebuah jembatan besar di New York dari berbagai sudut. Gambar-gambar tersebut saling berdempetan dan tumpang tindih membentuk sebuah realitas baru, citraan visual yang imjinatif, bersama dua versi musik yang barangkali menghasilkan sensibilitas berbeda. Karya ini juga dimuat dalam koleksi “Treasures IV: American Avant-Garde Film, 1947-1986” oleh National Film Prefeserfation Foundation bersama 25 filem lainnya yang dianggap berperan penting dalam sejarah re-defenisi sinema di Amerika.

Dari karya Clarke salah satunya kita bisa melihat bagimana bahasa filem di era 50-an mengkorelasikan citraan visual dan bunyi. Seperti sebuah tarian yang semakin kompleks dengan sajian gerak dan musik. Konon Clarke sebenarnya hanya ingin menjadi penari, namun kemudian bakat itu disajikan dalam budaya sinema. Filem ini sengaja dipertontonkan di Sinema Pojok 6 sebagai pengenalan gaya-gaya dan perkembangan sinema dunia. Terutama mengisi kekosongan wacana pengetahuan sinema dunia di Solok (baca juga: Referensi Yang Buram).

Jpeg

Filem kedua yang diputarkan adalah Home, sebuah dokumenter panjang karya Yan Arthus-Bertrand, dirilis pada tahun 2009. Sebuah filem merekam perkembangan dan perubahan global yang terjadi di dunia. Filem ini secra estetis cukup menarik, bisa dikatakan semua gambar yang ia dapat diambil dari udara. Menghasilkan gambar-gambar yang menakjubkan atau gambar yang viewnya bisa dikatakan belum pernah dilihat banyak orang secara langsung. Dan di sisi lain filem ini mengajak kita, penonton, berada pada posisi mengamati bumiyang tampak sebagai sebuah objek yang semakin hari semakin kritis ditangan manusia rakus sebagai subjek.

Secara keseluruhan, filem ini menyajikan gambaran umum bagaimana kerakusan menjadi masalah bersama umat manusia yang hidup bergantung terhadap bumi. setiap citraan visual diiringi dengan narasi oleh seorang narator tunggal. Hampir sama sebenarnya dengan gaya dokumenter televisi umumnya, cendrung menggurui, dan membuat penonton pasif. Penonton terkesan seakan mendengar ceramah ketimbang ‘membaca sebuah teks’. Tapi isu yang dinarasikannya cukup mendalam, referensinya faktual. Tapi bagi saya filem ini masih menyisakan banyak misteri, terutama dengan jarak antara kamera dan kehidupan di bumi – sebagai objek, kita tidak melihat interaksi dan pola sosial secara objektif kotekstual – yang bagi saya adalah kunci untuk memahami persoalan ini. Keintiman, situasi politik, dan kesadaran budaya lokal saya kira adalah bagian penting untuk menilai persoalan ini.Jpeg

Jpeg

Filem Home sengaja diputarkan sebagai pengantar wacana lingkungan hidup dalam prespektif global. Dalam hal ini Komunitas Gubuak Kopi memoderasi penayangan ini untuk melihat persoalan lokal dalam pemahaman yang global, bahwa menjaga dan merawat bumi adalah tugas semua penduduk bumi. Apa yang menjadi masalah bersama dan apa yang bisa kita lakukan.

_____________

 

Postingan Terkait

Albert Rahman Putra (Solok, 31 Oktober 1991) adalah lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Pernah terlibat dalam Proyek Seni DIORAMA Forum Lenteng. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *