Doc. Workshop Collage #2

Setelah melewati kolase sesi #1, kali ini kita kembali bertemu di agenda “bermain kertas, menggunting iklan” bersama Kelompok Barajafilem. Kali ini fasilitator masih bersama Albert Rahman Putra dan Tiara Sasmita, dan satu orang lagi yang juga ingin bergabungg yakni, Dinova. Siang itu kami sedikit kebingungan mencari lokasi yang bisa kami pakai. Tempat sebelumnya, sedang dipakai oleh pemilik rumah yang sedang memperbaiki motornya.

Kita sempat kebingungan, lalu anak-anak ini mengusulkan untuk melakukannya di teras Masjid tempat mereka biasa mengaji. Sore itu setelah sesi belajar mengaji selesai kami langsung minta izin pada penjaga Masjid, dan syukurlah diizinkan. Potongan-potongan majalah itu langsung berserakan di lantai, dan anak-anak ini menyerbu.

Sebelum mereka memulai permainan ini, Dinova menantang mereka untuk membentuk sesuatu yang aneh, atau sesuatu yang unik dan tidak logis. Tidak perlu menyerupai apapun yang mereka kenal, dan mereka pun menyanggupi. Dalam kesempatan itu juga Albert menekankan bahwa apa yang mereka kerjakan hari ini nantinya bisa menjadi salah satu media baginya untuk mengungkapkan sesuatu. Tidak harus dengan merakit tulisan, tetapi juga tentang bagaimana gambar itu kita susun.

“Kita sebenarnya juga sadar anak-anak ini juga belum memahami yang saya sebut mengungkapakan sesuatu melalui konstruksi gambar yang mereka susun, tapi saya juga harus mengatakannya, semoga bisa jadi referensi mereka setelah dewasa,” ┬átambah Albert.


Postingan Terkait

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *