Sinema Pojok #3 – Spesial Ivens

Di kesempatan ke-3 ini @sinemapojok masih mengajak kawan-kawan untuk menonton karya-karya Joris Ivens. Di nomor sebelumnya kita telah mengenal sutradara berkebangsaan Belanda ini melalui #IndonesiaCalling, kali ini kita akan menonton tiga filem Joris Ivens lainnya yang sering disebut sebagai bahasa filem yang puitis.

Jangan lewatkan!

Kami juga mebagikan artikel terkait filem ini yang bisa kawan-kawan dapatkan secara cuma-cuma satu jam sebelum jadwal tayang, silahkan datang lebih cepat.

Sinopsis:

Movement Studies in Paris

A study of traffic movement in Paris.

Rain 

review by Chuky P, pick from IMBD

This is a short documentary from the city-symphony genre of film in the early era of film. Unlike most city symphonies, Rain has more of a narrative structure as it shows Amsterdam and it’s inhabitants immediately before, during, and after the rainfall. The gentle melodic strumming of guitar accompanies the various images and provides for an added tranquil experience. The film is shot using often obscure angles and close ups of images out of their normal range of view. As it was made during the silent era, there are no words to taint the beauty/ experience and the images are allowed to speak for themselves- while each viewer is allowed to connect and relate their own experience with the anticipation of rain. The film is short and sweet and perhaps one of the most naturally compelling visions of early or even later cinema. If you have the rare opportunity to view this piece of art, I highly suggest it. 

Ini adalah sebuah film dokumenter pendek dari genre The City Symponi di era awal film. Tidak seperti kebanyakan simfoni-simfoni kota, Rain (Hujan) memiliki lebih dari struktur naratif sebagaimana ia menunjukkan Amsterdam dan dan penghuninya menjelang, selama, dan setelah curah hujan. Petikan melodi lembut dari gitar menyertai berbagai gambar dan menyediakan ruang ketenangan untuk memperkaya pengalaman. Film ini di-shot sering menggunakan sudut yang jelas dan close up terhadap gambar dari jarak pandang normal mereka. Sebagainya yang sering dibuat selama era filem bisu, tidak ada kata-kata untuk menodai keindahan / pengalaman dan gambar diizinkan untuk membicarakannya sendiri- sementara setiap penoton dibebasakan untuk terhubung dan berhubungan dengan pengalaman mereka sendiri dalam mengantisipasi hujan. Film ini pendek dan manis dan perlahan menjadi salah satu cara pengambilan gambar yang paling natural, dari awal atau bahkan keberlanjutan sinema. Jika Anda memiliki kesempatan yang sangat langka untuk menyaksikan bagian dari karya seni ini, saya sangat menyarankan anda untuk mengambil kesempatan itu.

A Valparaiso

A travelogue of Valparaiso, Chile, a city built on steep hills. Life is a constant struggle against geography. Neighbourhoods are reached by series of ramps, staircases, and funicular railway elevators. The poorest residents on the hilltops have trouble obtaining water for drinking and washing. There are community dances, a travelling circus, a race course. Boys feed the harbour sealions; a fashionable woman walks her penguin. The ever-present onshore breeze provides fresh air and an ideal environment for kite-flying. The film’s second half is in colour, making the switch with the tale of the city’s bloody pirate past.

Sebuah catatan perjalanannya dari Valparaiso, Chili, sebuah kota yang dibangun di atas bukit yang curam. Kehidupan yang merupakan perjuangan terus-menerus terhadap kondisi geografis. Sekitaran dicapai dengan serangkaian Ramp, tangga, dan lift yang bergerak dalam rel. Warga miskin di puncak bukit kesulitan untuk mendapatkan air minum dan mencuci. Ada tarian masyarakat, sirkus keliling, kursus balapan. Anak laki-laki memberi makan singa laut pelabuhan; seorang wanita modis menjalankan penguin nya. Angin darat selalu hadir memberikan udara segar dan lingkungan yang ideal untuk bermain layang-layang. Dipertengahan, film ini menjadi bewarna, sebagai perlarihan kisah berdarah bajak laut masa lalu di kota ini.

 

Postingan Terkait

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *