Kapal-kapal Yang Tidak Pernah Berangkat

Sejarah Perjuangan Buruh Dunia di Australia Untuk Indonesia Merdeka. 

1942 Jepang menduduki Indonesia. Pemerintahan Kolonial Belanda membentuk pemerintah pengasingan di Australia. Sebagai bagian dari Sekutu, Pemerintah Belanda di pengasingan waktu itu mendapatkan kekuasaan ekstra teritorial yang didukung oleh Pemerintah Australia.

Selama masa penjajahan Jepang, banyak pengungsi Indonesia yang berkumpul di Australia. Di antara mereka adalah pelaut dan buruh-buruh Indonesia yang bekerja di kapal Belanda. Pada tahun 1943 Belanda mengangkut 500 orang lebih ke Australia, baik pria, wanita dan anak-anak, dari perkampungan tawanan di Tanah Merah. Belanda juga bermaksud mengasingkan para tawanan ini di Australia. Para tawanan tersebut berhasil menyampaikan surat kepada seorang Australia pekerja pelabuhan dan kemudian juga kepada seorang pegawai kereta api. Surat-surat ini berisi penjelasan mengenai maksud Belanda yang hendak mengasingkan tawanan tersebut. Serikat Buruh Australia mersepon dengan cepat, mereka berkampanye secara bersemangat dan berhasil membebaskan para tawanan.[1]

Di awal Agustus bom atom menghacurkan Hirosima dan Nagasaki, Jepang kehilangan kekuatannya. Dua minggu setelah itu, 17 Agustus 1945 Indonesia mengumumkan kemerdekaannya. Kalangan baruh di Australia menyambut baik dan merayakan kabar gembira itu. Namun, melemahnya Jepang dijadikan kesempatan oleh Pemerintah Belanda untuk merebut kendali di Indonesia. Pada Oktober 1945, seusai menaklukan armada Jepang di Pasifik, kapal perang Belanda bergerak dari Australia, bermaksud merebut kemerdekaan Indonesia. Para pelaut dan buruh Indonesia di Sydney bersama pelaut dan buruh Australia berkumpul untuk melakukan aksi boikot.

***

Indonesia Calling (Indonesia memanggil), adalah rekaman artistik aksi heorik kaum buruh itu. Filem yang direalisasikan oleh Joris Ivens ini diriilis pada tahun 1946. Membuktikan peran penting kaum buruh dalam pembentukan republik baru: Indonesia. Jika anda adalah generasi saya, di Sekolah, kita hampir tidak mendapat pengetahuan mengenai ini. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan seakan tidak lepas dari aksi-aksi heroik milterisme. Apa yang akan terjadi jika tidak ada tindakan dari pada buruh waktu itu?

Pemerintahan Australia yang waktu itu dikuasai partai buruh termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Pengakuan itu itdak lepas dari desakan dan kerja solidaritas kaum buruh Indonesia serta Australia.

Pemerintah Australia dalam pernyataan resminya berjandi tidak akan mendukung ataupun ikut campur dalam usaha Belanda merebut Indonesia. Bagi rakyat Australia sendiri rakyat Indonesia – baik itu pengungsi, pelaut, ataupun buruh dan keluarganya – adalah kawan, warga kota: bagian dari mereka. Mereka saling mengenal dengan baik, mereka hidup berdampingan, mereka berdansa bersama, tertawa bersama.

Hari itu, lebih dari 70 ribu warga akan mendukung kemerdekan Republik baru Indonesia. Di pelabuhan-pelabuhan Australia, para rakyat Indonesia mengumandangkan aksinya. Tidak akan ada perlayaran menuju Indonesia selama tidak ada jaminan bahwa kapal itu tidak berisikan senjata, atau apapun yang digunakan untuk menyerang Indonesia. Tidak mudah untuk berjuang di negeri orang lain, tapi mereka melakukannya.

Di pelabuhan-pelabuhan terdapat pertemuan-pertemuan kecil, di sana buruh Australia berbicara.

“Indonesia sedang bergerak, kita harus membantu mereka!.. kongres buruh dunia mendukung kemerdekaan setiap bangsa, kenapa Indonesia tidak?”

vlcsnap-2015-10-19-08h23m06s93

vlcsnap-2015-10-19-08h22m42s174

Capture dari filem Indonesia Calling (Indonesia Memanggil) karya Joris Ivens, 1946. Didistribusikan dalam subteks Bahasa Indonesa oleh program DVD Untuk Semua, Forum Lenteng, 2012.

Dukungan itu adalah ‘dukungan untuk kebebasan setiap bangsa menentukan diri sendiri’ demikian mereka mengingatkan prinsip Atlantic Charter (Piagam Atlantik). Ungkapan itu menggelora di hati para buruh, maka nyatalah dukungan itu sangat penting untuk nasib republik baru Indonesia. Serikat buruh di Australia menolak untuk mengangkut senjata Belanda ke Indonesia.

“kami tidak akan berlayar sebelum ada jaminan, bahwa kapal tidak mengangkut amunisi dan senjata untuk menyerang Indonesia.”

Perdana mentri Australia mendukung aksi para buruh itu. Tapi jaminan itu tidak kunjung datang. Suatu kali buruh pelabuhan mendeteksi kapal yang membawa angkutan senjata. Senjata itu tersimpan dalam kotak berlabel Logistik dan Obat-obatan. Belanda menyangkal hal itu, tapi ia tidak dapat menyangkal Perdana Mentri Australia. Kapal-kapal belanda dan kapal yang melakukan kecurangan, oleh para buruh diberi label “Black Ban”. Aksi itu memancing solidaritas seluruh dalam jumlah yang semakin besar. Sekitar 500 kapal berhenti berlayar.

Diawali buruh transportasi pengangkut Kargo-kargo kapal, buruh cat, buruh mekanik, semua menolak bekerja untuk Belanda. Pengawas pelayanan menolak perusahaan belanda, tukang pipa, pekerja batu bara kapal, instalator listrik, pengepak, dan perusahan lainnya menolak untuk bekerja. Diawali serikat nelayan Australia, kemudian pekerja kapal Inggris, Cina, India, Malaysia, Selandia Baru, dan Kanada. Buruh dunia mendukung aksi itu.

Pawai-pawai yang mengkampanyekan kemerdekaan itu pun mucul di kota. Dengan arak-arakan yang dilakukan warga membawa foto presiden Sorekarno, bendera Asutralia, Indonesia, spanduk-spanduk: “Freedom For Pacific Peoples!”

Dukungan kemudian juga berdatangan dari para pemimpin-pemimpin dunia, dari India, Uni Soviet, Filipina, dan dukungan juga dari Cina, bahkan rakyatnya telah berhasil menggalang 1100 Pound untuk perjuangan Indonesia.

***

Capture dari filem Indonesia Calling (Indonesia Memanggil) karya Joris Ivens, 1946. Didistribusikan dalam subteks Bahasa Indonesa oleh program DVD Untuk Semua, Forum Lenteng, 2012.

Para buruh dengan serius mendata setiap kapal yang mendukung aksi boikot ini, suatu ketika diketahui amunisi menyelinap dikapal tempat para buruh India bekerja. Beberapa perwakilan buruh mengejar kapal yang sedang berlayar itu, dari kapal kecil mereka, termasuk buruh India lainnya, hanya bisa menghimbau dan mengingatkan mereka untuk ikut mendukung kemerdekaan Indonesia,

“Jangan bekerja. Indonesia hampir berhasil.. perjuangan kami sama dengan perjuangan kalian..”

Kapal yang menuju Kalimantan itu terus berlayar dan hilang. Tapi tak lama para buruh India itu kembali. Mereka akhirnya sadar, kapal itu sedang menuju Kalimatan dengan pasokan senjata. Mereka menolak, tentara Belanda menodongkan senjata, tapi mereka tetap kembali dan melakukan pertemuan kecil dengan para buruh lainnya di jalanan.

“Perjuangan ini perjuangan kita.. kemenagan mereka adalah kemenangan kita juga!”, kata  seseorang yang mewakili buruh India itu.

vlcsnap-2015-10-19-08h27m03s184

Usaha-usaha perebutan Belanda terus berlangsung sejak itu, hingga pada 1949 usaha Belanda itu benar-benar dihalangi oleh Serikat Buruh dan oleh Pemerintah Australia yang waktu itu dikuasai Partai Buruh. Kapal-kapal Belanda tidak diberi bahan bakar, dan para pekerja pelabuhan tidak mau menaikkan muatan bahan persediaan ke atas kapal Belanda.

1947 di Indonesia waktu itu berdiri SOBSI: Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia. Sebuah federasi serikat buruh pertama yang berdiri di Indonesia. Organisasi ini juga merupakan organiasi yang berperan penting dalam perjuangan mempertahankan republik baru Indonesia. Menyerukan pekerja untuk bersatu dan berjuang untuk menciptakan sebuah masyarakat yang sosialis.(Buruh dan Kemerdekaan Indonesia) Organiasi ini kemudian pada masa pemerintahan Orde Baru, Soeharto, dianggap sebagai organisasi “sayap kiri” atau organisasi terlarang karena di dalamnya turut terlibat Partai Komunis Indonesia; merupakan partai yang berkembang pesat dikalangan buruh Indonesia pada masa pemerintahan Soekarno.[2] Orde Baru, juga saya kenal masa-masa produksi buku sejarah yang generasi saya konsumsi di sekolah. Buku sejarah yang dipenuhi dengan aksi-aksi heroik militer dan citra buruk ‘gerakan sayap kiri’.

IMG20151023202622-1

Suasana Sinema Pojok #2 usai penayangan Indonesia Calling (Indonesia Memanggil) karya Joris Ivens (1946)

23 Oktober 2015 lalu, dalam program pemutaran filem Sinema Pojok #2, Indonesia Calling putarkan untuk publik. Malam itu kami mengangkat tema belajar sejarah, melaui karya-karya dokumenter. Indonesia Calling dipilih sekaligus mengisi ke-absen-an pelajaran sejarah kita dari pergerakan besar: pergerakan buruh. Kebetulan malam itu, banyak di antara mereka yang hadir adalah anak-anak sekolah dasar di sekitar Aia Mati, Kota Solok. Di akhir filem salah seroang anak bertanya:

“Katanya tadi filem perjuangan kak, kok nggak ada tembak-tembakannya?”

___________________________________________________________________

[1] Majalah Historia –  Dari Buruh Australia Untuk Indonesia Merdeka

[2] Wikipedia: Sayap Kiri (https://id.wikipedia.org/wiki/Sentral_Organisasi_Buruh_Seluruh_Indonesia)

Dokumenter: Indonesia Calling, karya Joris Ivens. Australia, 1946

Sumber gambar: Capture dari filem Indonesia Calling (Indonesia Memanggil) karya Joris Ivens, 1946. Didistribusikan dalam subteks Bahasa Indonesa oleh program DVD Untuk Semua, Forum Lenteng, 2012.

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.