Menyusuri Gang Rumah Abib

Setelah mendapat tantangan dari adik-adik di Aia Mati, yang kemudian kami sebut Kelompok Barajafilem, hari itu (24/10/2015) kami memutuskan untuk mulai memegang kamera. Tentu sebelumnya Albert Rahman Putra selaku leader dan juga fasilitator dalam agenda “me-residensi-kan diri” ini memberi pengarahan dulu kepada kelompok anak-anak ini mengenai praktek bermedia.

Dalam pertemuan awalnya, Albert menggambarkan praktik yang kita lakukan kali ini hampir sama halnya dengan menulis diary. Albert menanyai satu persatu pada anak-anak ini apakah mereka pernah mempunyai catatan harian. Rata-rata mereka tidak lagi punya, tapi mengaku pernah membuatnya. Tapi, setidaknya mereka mengerti danpaham mengenai apa itu diary.

Albert mengatakan pada anak-anak ini bahwa yang akan sebentar lagi kita kerjakan adalah sesuatu yang penting. Karena sebentar lagi kamu (anak-anak peserta pelatihan ini) akan segera menceritakan hal menarik di sekitarmu terhadap orang banyak. Jadi kamu juga harus jeli untuk membicarakan yang kamu sukuai itu. Jeli maksudnya jangan mengumbar-umbar hal yang terlalu privat, tapi kita fokus pada keseharian kita saja, yang mungkin orang lain tidak tahu atau juga punya hal serupa.

Kita menantang adik-adik untuk memilih sendiri apa yang ingin dibicarannya. Masing-masing membuat pilihan mereka. Kemudian kita menseleksi, kita tertarik dengan ide untuk menceritakan jalur yang biasa anak-anak ini gunakan menuju ke sekolah. Jalur itu sering mereka sebut Gang Rumah Abib. Tidak ada yang bernama Abib di sini (diantara peserta ini). Tapi itu sudah mereka gunakan sejak lama secara tidak sadar. Memang di salah satu pengelokan gang terdapat rumah seorang anak bernama Abib. Dia saat itu duduk dibangku SMP dan bukan juga kawan sepermainan mereka.

Di pelatihan awal, kita melakukannya bersama-sama, kita menusuri jalur yang dimaksud Gang Rumah Abib. Perjalanan ini ternyata cukup menarik, sepanjang perjalanan, masing-masing menunjuk rumah mereka, termasuk rumah Abib, menunjuk gambar di dinding yang coret temannya, dan juga menunjukan titik-titik bau pesing yang ada di sepanjang gang itu. Itulah visual dan citraan yang biasa mereka lewati setiap pagi menjelang sekolah.

Setelah diusut, ternyata penggunaan nama Gang Rumah Abib, untuk menandai cabang lain dari jalur itu. Jalur yang satu tidak melewati depan rumah Abib, dan yang satu lagi melewati rumah Abib yang akan keluar di titik yang berbeda. Nama Abib memang satu-satunya yang seusia dia (anak-anak) disekitar itu, kala jalur itu jadi pilihan. Dan itu mengalir sejak para orang tua memberi indeks jalur mana yang harus mereka (anak-anak) tempuh, dan kemudia juga menjadi latah oleh anak-anak ini dalam kode untuksesama mereka.

Video itu sebenarnya tidak rampung, karena keterbatasan kita, baik itu soal teknis maupun mood, akhirnya anak-anak ini menantang untuk merekam permainan mereka.

Kami pun setuju.

_________________

Tiara Sasmita


Berikut videonya

Postingan Terkait

Tiara Sasmita (Solok, 31 Desember 1991) adalah mahasiswi di Universitas Andalas, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Inggris. Saat ini aktif di Gubuak Kopi sebagai Bendahara Umum. Ia juga aktif di Komunitas Cermin, sebuah komunitas teater di Fakultas Ilmu Budaya di kampusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *