KURANGNYA RUANG DISKUSI FILEM DI KOTA KAMI

Oleh: Fauzia Fuaddy

Belum lama ini teman saya, Albert Rahman Putra, ketua dari Komunitas Gubuak Kopi, berkunjung ke salah satu event festival filem internasional di Ibu Kota, yakni ARKIPEL, Jakarta Internasional Documentary & Experimental Film Festival yang diselenggarakan oleh Forum Lenteng pertengahan Agustus lalu. Aber, begitu kawan – kawan memanggilnya. Seperti biasa setiap kepulangan rekan-rekan Komunitas Gubuak Kopi dari “jalan-jalan” kita akan berbagi pengalaman untuk saling menambah ilmu. Di kepulangannya beberapa waktu lalu, Alber berbagai tentang wacana dan perkembangan filem yang ia dapati dari komunitas atau kelompok yang hadir di sana, seperti Komunitas Pasir Putih, Akumassa, Kotak Hitam, dan komunitas pegiat seni media lainnya. Pada event Arkipel ini, Aber juga belajar bagaimana sebuah komunitas membangun kepedulian dengan menghasilkan suatu karya yang mungkin bisa dijadikan objek kritis masyarakat. Misalnya melalui Filem Dokumenter atau filem yang mungkin belum pernah kita jumpai di televise – yang mayoritas hanya menyajikan filem hiburan.

Filem dokumenter sendiri sangat membuat Aber tertarik untuk membagikannya ke teman – teman Komunitas Gubuak Kopi, termasuk juga saya. Filem dokumenter yang saya pahami adalah filem yang menyajikan atau mendokumentasikan kenyataan (realita) lalu disusun kembali oleh si sutradaara. Filem dokumenter lebih berpotensi besar memberi gambaran realista mengenai kehidupan, perjalanan, pendidikan, social, dsb. Lebih dar itu, ia juga alat mengkritisi atau mendesak kebutuhan solusi atas permasalahan yang ada di lingkungan sekitar, baik itu yang pernah terjadi ataupun belum pernah terjadi. Dengan adanya penataan dari filem dokumenter ini nantinya akan mampu meningkatkan atau melatih kepekaan masyarakat (termasuk pemerintah) terhadap apa yang sedang terjadi. Bahkan masyarakat sendiri akan sedikit lama untuk memahami persoalan dari filem – filem yang disampaikan melalui dokumenter ini, krena memang dokumenter bukanlah proyek main-main, karena realitasnya adalah sebuah referensi sejarah.

Kembali ke pembahasan awal, saya dan Aber tertarik untuk menyajikan filem-filem seperti ini di Kota Solok. Dengan alasan, masyarakat Solok sangat kurang akan ruang untuk menonton filem-filem “arus utama”. Awalnya kami mulai mendiskusikan, apa itu filem dokumenter, lalu bagaimana perkembangan di Ibu Kota Jakarta dan di daerah lainnya, sampailah ke makna yang terselubung atau persoalan konteks dan teks dari filem tersebut. Sangat menarik sebenarnya, terutama bagi seseorang yang ingin mengetahui sejarah dan perkembangan sinema di dunia, atau bagi seseorang penikmat filem.

Jpeg

Penayangan filem Harimau Minahasa di Taman Kota Solok. (02/10/2015)

12170652_10205172114930052_1430258456_n

Penayangan filem Harimau Minahasa di Taman Kota Solok. (02/10/2015)

Saya sebenarnya juga tidak memahami betul akan filem dokumenter, tapi saya tertarik untuk mencari tau apa saja tema dan persoalan yang disampaikan. Menurut saya hal ini sangat “tabu” di lingkungan atau di kota saya. Di Akhir diskusi kami mencari sebuah nama yang nantinya akan besar di masyarakat Solok untuk program ruang menonton filem ini. “Sinema Pojok”.

Sinema Pojok adalah bioskop non-Komersial yang isinya sesuai kebutuhan akan pengetahuan sinema, serta mendistribusikannya melalui kegiatan pemutaran filem regular. Filem yang diputar adalah filem filem yang bisa menjadi alternatif untuk ditonton publik. Mulai dari filem klasik, kontemporer, film panjang ataupun pendek, filem local ataupun luar negeri, filem aktivisme, experimental, serta filem – filem yang dianggap penting dalam sejarah dunia. Sinema Pojok ini juga akan menjadi tempat bertemunya para pecinta filem serta berbagi kecintaan tentang filem dan sejarah sinema dunia.

Setelah menentukan nama untuk projekan filem ini, mulai lah persiapan bagaimana konsep untuk acara pembukaan dari “Sinema pojok”. Filem yang menjadi pembukaan yaitu “Harimau Minahasa” sutradara “Andang Kelana & Syaful Anwar” dengan durasi 63 menit, disana menceritakan seorang pemuda rantau dari jember, bekerja diperkebunan pala, minahasa utara. Ia diterima oleh warga sekitar untuk bekerja dan tinggal disebuah perkebunan. Diperantauan, ia tidak bisa memungkiri keterikatan identitas asal muasal leluhurnya, sedikit synopsis singkat. (lihat juga: DOC. SINEMA POJOK #1)

02 Oktober 2015, menjadi malam pembukaan “Sinema Pojok”, dengan pertunjukan music dari “Ethnic Percussion” Padang Panjang. Masyarakat datang dengan cukup antusias, walaupun mungkin mereka belum terlalu paham atau terbiasa dengan gaya dari filem yang kami sajikan. Pukul 20.00 WIB, pembukaan pun dimulai dengan pengenalan Sinema Pojok oleh Aber.

Lampu meredup, filem pun dimulai. Masyarakat sedikit mengernyitkan keningnya, mungkin dikarenakan mereka masih merasa “aneh” akan filem yang kami sajikan dan memang sepengetahuan saya, gaya filem seperti ini belum pernah ada di TV yang biasa mereka nonton dikeseharian.

Dipertengahan filem ada beberapa anak kecil yang ikut menonton dan mereka terus mencari tau, mereka pun bertanya ke saya,

uni, filem apo ko ni, awak nio tau, bisa diulang liak ni?” (Uni, ini filem apa? Bisa diulang lagi?)

“cari taulah diak, kok lai suko beko kami putaan baliak, lanjuikan ka filem barikuiknyo minggu bisuak tonton liak dih”. (cari tahu saja, kalau suka nanti kami putarkan lagi, minggu depan masih ada, datang ya!), jawab saya.

Sedikit arti singkat, si anak kecil tertarik akan filem yang kami sajikan, tapi dia ingin kami memutar ulang filem ini. Jawab saya, kalau tertarik di lain waktu akan kami putar kembali dan silahkan ikut nonton filem berikutnya.

Mengenai hubungan filem dan anak kecil ini, Aber juga pernah bercerita,

“sebenarnya untuk filem dengan gaya seperti ini, saya tidak heran bahwa anak-anak lah yang paling tenang duduk dibangku mereka. Memang kepentingan mereka hanya untuk menonton filem, mungkin tidak untuk mendapatkan sesuatu yang bisa jadi rujukan atau bahan perbincangan…

…Kita bisa bandingan dengan penonton dewasa atau anak-anak muda Solok, mereka rata-rata terlihat gelisah, mengerutkan dahinya, atau malah menyerah, dan tidak lagi menyimak. Berdasarkan pengalaman saya, pola semacam itu wajar terjadi, karena ketika menonton filem seperti ini, kita yang sudah terbiasa dengan gaya Hollywood atau gaya dokumenter televisi, akan merasa kayak diintervensi oleh pengalaman kita tentang filem, kita mungkin merasa filem ini aneh, berat, atau mungkin jauh dari sempurna. Lain halnya dengan anak-anak yang belum begitu terkukung gaya Hollywood atau gaya televisi.

…Justru memang begitu lebih bagus, kita harus bangun kultur ini dari sekarang sebelum mereka juga – secara sadar atau tidak sadar – menyimpulkan bahwa filem itu hanya “Hollywood” atau seperti sajian televisi yang narasinya terlalu mendikte kita.”

DSC06464

Suasana menonton filem Harimau Minahasa di Taman Kota Solok (02/10/2015)

IMG_5051

Suasana menonton filem Harimau Tjampa di Perumas Batu Kubung, Solok. (26/09/2015)

IMG_5411

Suasana menonton di kegiatan Aku Kita dan Kota oleh Komunitas Gubuak Kopi dan Becak Bioskop tahun 2013 di Taman Kota Solok.

IMG_5397

Suasana menonton di kegiatan Aku Kita dan Kota oleh Komunitas Gubuak Kopi dan Becak Bioskop tahun 2013 di Taman Kota Solok.

Aber mengaku ia beruntung, sewaktu sebagai anak kuliahan yang tinggal di kos-kosan, yang pas-pasan, menjauhkannya dari televisi dan menggantikannya dengan filem-filem seperti ini. Belakangan ia baru menyadari, bahwa ternyata televisi kita saat ini memang tidak layak ditonton, semuanya hanya kepentingan pemodal untuk bisinis atau citra politik mereka.

“kalau nonton tivi cukup ambil info kejadiannya, nggak mau ambil penilaiannya. Sama kayak filem-filem yang kita putar disinema pojok, terutama dokumenter tidak ada narasi tulis atau lisan yang menggurui atau nyuapin kesimpulan pada kita, yang ada hanya bahasa gambar, rekaman realitas lalu silahkan kunyah dan simpulkan sendiri.”

Di akhir filem beberapa orang yang antusias menonton memberikan applause. Mungkin mereka mengerti makna dari filem yang kami sajikan dan tertarik untuk melanjutkan filem berikutnya. Realita dikota saya ini, sangat minim sekali yang namanya gedung pertunjukan atau gedung tempat wadah mereka menonton filem. Tiga Tahun lalu, kota ini masih mempunyai satu bioskop besar, yang pada akhirnya menjadi menjadi komplek pertokoan. (baca juga: Nostalgia Layar Kejayaan). Seharusnya, bioskop tua itu dibenahi sebagai wadah masyarakat untuk menonton filem – filem yang bermanfaat. Padahal jika pemerintah menyediakan sebuah wadah, ini bisa membantu dan menjembatani pertukuran budaya dan pengetahuan melalui audio-visual. Tapi kini akhirnya bioskop pun lenyap, bersamanya kultur menonton masal. Dengan melihat kondisi seperti ini Komunitas Gubuak Kopi sangat tergerak untuk memberikan beberapa sajian filem dalam bentuk bioskop non komersil dan bias dikatakan bioskop tempo dulu dengan layar tancap. (baca juga: NOSTALGIA KULTUR SINEMA DI BATU KUBUNG)

Selama satu tahun ke depan kami sudah memilih tema-tema filem yang akan disuguhkan di Sinema Pojok. Filem-filem tersebut didapatkan melalui jejaring, baik itu kelompok peneliti filem atau komunitas-komunitas yang bekerja memproduksi filem di daerah mereka. Silahkan simak informasinya melalui blog dan media sosial Komunitas Gubuak Kopi.

____________________________

Postingan Terkait

Fauzia Fuady, atau biasa disapa Oji, lahir dan besar di Kota Solok. Senang menulis dan memimpin sebuah radio swasta di Solok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *