Harimau Minahasa dan Sinema Solok

Ateng tiba-tiba kehilangan dirinya, ia mengejang berlagak seperti harimau, mencakar, jungkir balik, lalu berbicara dalam bahasa Jawa. Tubuh itu kini mengaku sebagai eyangnya Ateng. Ateng kerasukan roh eyangnya. Entah benar entah tidak. Tapi ia benar-benar geram ketika bahasa Jawa nya dibalas dengan bahasa Indonesia oleh Andang (sutradara). Pertanyaan-pertanyaan eyang sering kali mendapat jawaban yang tidak nyambung, karena si Andang pun tak mengerti bahasa Jawa. Percakapan tidak terjembatani. Ia geram tapi tak berhenti bertanya.

Deskripsi di atas adalah adegan salah satu scenes di Filem Harimau Minahasa yang diputarkan Sinema Pojok pada 02 September 2015 lalu di Taman Kota Solok. Filem ini disutradari Andang Kelana dan Syaiful Anwar (2015). Pada bagian ini beberapa orang yang masih menonton tertawa terkekeh. Penonton yang duduk di sekitar saya rata-rata bertanya dan beberapa menyakinkan “itu benar-benar kesurupan, kan?”. Saya tidak tahu, mungkin hanya Ateng dan Gusti Allah yang tahu jawab saya iseng, ataupun kalau itu benar-benar kesurupan Ateng mungkin juga tidak mengetahuinya.

Harimau Minahasa adalah sebuah filem yang disutradari Andang Kelana dan Syaiful Anwar di bawah produksi Hivos dan Yayasan Interseksi. Filem ini dibuat ketika ia sebenarnya hendak mendokumentasikan penelitian mengenai tanaman pala. Salah satu tanaman rempah yang sangat khas Indonesia, namun waktu itu situasi pilkada mempersulit mereka untuk mendapatkan izin dalam pembuatan filem itu. Maka konsep filem pun dirubah, terutama ketika mereka bertemu Ateng, salah seorang petani pala di Minahasa itu.

Filem ini sebenarnya cukup sederhana, saya kira tidak sedang bicara tentang “sesuatu yang panas” ataupun filosofi-filosofi berat. Tapi banyak yang menanyakan hal itu, karena sebenarnya seminggu sebelum pemutaran ini, saya dan kawan-kawan di perumnas Batu Kubung, Solok, juga memutarkan filem yang ada embel-embel harimaunya pada judul: Harimau Tjampa. Sebuah filem tentang kehidupan pesilat di Minangkabau. Ada juga yang awalnya mengira filem ini sebuah filem silat, apa lagi di televisi ada juga tayangan-tayangan serial silat dengan embel-embel judul harimau juga.

Filem ini bercerita kehidupan sehari-hari Ateng, seorang petani pala di Minahasa. Keseharian Ateng adalah membantu orang tuanya, mengurus kebun, angsa, dan babi. Di sela realitas harinya ia bercerita tentang pengalamannya merantau keberbagai daerah. Ia adalah subjek, seorang perantau yang sering bermigrasi dan bertemu dengan berbagai kebudayaan yang berbeda. Kemampuannya untuk survive adalah persoalan menarik di sini. Menjadi karakter unik, aneh, dan asik adalah subjek itu.

Sebenarnya Ateng bukanlah seorang petani atau pengurus kebun yang handal, terlihat di beberapa adegan ia kesulitan menggunakan alat mesin potong rumput. Tapi kelucuan sederhana itu adalah cerminan kehidupannya, ia terasa begitu intim ketika sutradara menyorotnya dan itu terlihat bahwa Ateng bukan seorang yang profesional tapi ia adalah potret yang gigih diatas tuntutan hidup di negeri ini.

Persoalan yang menarik bagi saya dari penayangan ini adalah kurangnya fokus penonton ketika filem ini sampai di pertengahan. Saya tidak akan mengkritisi soal estetika filem karena sebenarnya saya memang tidak mahir soal itu. Tapi saya mengenal situasi yang terjadi: menonton merasa filem ini cukup asing.

Sinema Pojok memang dirancang untuk ini: menawarkan kebaruan keberagaman gaya filem, menjembatani pertukaran budaya melalui medium audio visual, dan membuka akses serta peluang untuk bertemunya para pecinta filem untuk mengapresiasi karya-karya filem lokal, nasional, dan dunia. Selain itu Sinema Pojok juga eskperimen dan sosial reseach terkait budaya sinema di Solok.

Ada tipe demografi penonton yang paling menarik perhatian saya, yang pertama adalah remaja: pelajar, mahasiswa atau seangkatan saya, mereka adalah orang-orang yang terlihat paling gelisah. Ada beberapa faktor kegelisahan yang menonjol seperti mungkin tempat menonton tidak senyaman gedung bioskop-bioskop besar, termasuk soal sound, dan aktivitas sekitar yang sering mencuri perhatian. Tapi dari tanggapan dan respon kawan-kawan yang hadir – yang memberikan saya beberapa rekomendasi filem – saya sadar ternyata: “Hollywood” atau filem yang hanya didstribusikan oleh jejering bioskop raksasa serta  filem televisi telah mempengaruhi pandangan mereka tentang sebuah konsep “filem yang baik”.

Saya beruntung bisa/setidaknya bisa menyadari bahwa filem-filem di dunia ini tidak cuma Hollywood dan Bollywood, atau filem-filem yang seperti menjual romatisasi kisah pendidikan daerah terpencil dengan segala musik yang sedih dan sebagainya: menjual haru. Saya beruntung perjalanan saya juga menemukan banyak ragam gaya filem yang memang selama ini saya tidak mendapatkan aksesnya. Ternyata filem tidak seserdahana persoalan teknis atau kecanggihan teknologi kamera, atau isu yang sedang trending topik untuk dikemas menjadi haru. Filem ternyata juga sebuah bahasa, sebuah teks yang juga untuk dibaca bukan sebuah hiburan. Ini juga tidak sesederhana mendengarkan narasi-narasi dokumenter yang di-dubing seperti hendak menggurui kita, seperti yang banyak hadir ditelevisi. Filem ternyata juga tidak hanya soal kamera tercangih, tetapi juga bagaimana kita mampu mengekspolrasi kemampun itu untuk kebutuhan bahasa visual.

Memang akan banyak yang kesulitan menerima sebuah dokumter tanpa musik, atau seorang narator lisan yang membimbing setiap secenes dan montase, karena selama ini kita hanya dapat mengakses filem yang seperti itu. Lalu pentingkah mengakses yang lain sementara orang-orang sudah nyaman dengan hal ini? ya. Keterbatasan akses atau kurangnya literasi filem dan media seringkali membuat kita tunduk pada sebuah kebenaran tunggal, contoh kecilnya adalah kita kesulitan menerima eksperesi orang lain terutama yang berupa eksperimentasi, dan yang berbeda sehingga pengetahuan dan kedinamisan menjadi stagnan sampai di sana. Dan ketika itu terjadi, sebuah instusi akan merasa menjadi penguasa, sikap kritis tidak mendapat tempat, keberagaman dianggap melenceng.

Contoh sederhana dan yang menggelikan adalah ketika seorang akademisi filem yang mendapat pengetahuan dari kurikulum-kurikulum perguruan tinggi, yang banyak sekali batasan itu, menjudge eksperiment lain adalah salah karena bertentangan dengan yang ia pelajari di sekolah filem. Sikap menggurui dan merasa paling benar muncul, dan akhirnya otoritan. Padahal sebenarnya ia memiliki banyak peluang untuk bereksplorasi dan menciptakan sebuah gaya, yang kita tahu semua gaya baik yang dikurikulumkan perguruan tinggi pun adalah sebuah hasil berfikir manusia yang sangat lama, dan itu adalah peluang mereka untuk turut menentukan gaya yang tepat sesuai dengan kemungkinan perkembangan terkini. Menerima aturan arus utama, atau kurikulum perguruan tinggi sebagai keharusan  bagi saya adalah kesalahan untuk seorang calon intelektual, apa lagi mereka tidak menyaksikan banyak model perkembangan terjadi di luar sana. Tidak hanya untuk pelaku seni sebenarnya, untuk semua orang saya kira, karena spirit itu akan tersebar diberbagai bidang kehidupan.

Sinema Pojok memang bukan ahli dalam soal itu, tapi Sinema Pojok berkomitmen menjembatani itu: membuka akses keberagaman itu.

Demografi yang kedua adalah anak-anak sekolah dasar. Saya yakin sekali mereka tidak begitu memahami isu yang sedang dibicarakan si sutradara. Tapi saya tahu mereka datang untuk menonton, menonton apa saja. Dan menariknya mereka adalah orang-orang yang paling bertahan ketika orang-orang yang lebih dewasa mengerutkan keningnya atau merasa filem ini terlalu berat. Filem tidak tersaji manja, itu benar. Filem ini cukup percaya dengan kekuatan visual dan audio yang terekam untuk membicarakan kontennya ketimbang melalui narasi lisan yang menggguri seperti dokumenter televisi dengan segala peniliannya yang belum tentu benar. Yang terjadi menurut saya adalah, orang-orang dewasa ini sedang diintervensi oleh gaya filem sebelumnya, seperti yang saya sebut tadi. Mereka akan membandingkan gaya yang baru dengan gaya yang sudah lama sekali mereka terima tanpa ada penawaran lain. Di sini lah letak kebertahanan anak-anak itu menatap layar, saya kira. Mereka belum terintervensi dengan gaya televisi yang instan ataupun Hollywood. Mereka lebih beruntung dari saya yang sejak kecil tidak dapat menonton beragam gaya sehingga hanya bisa menerima satu gaya.

Untuk minggu-minggu kedepannya Sinema Pojok akan terus menyajikan filem-filem yang mungkin sulit diakses dari media-media komersial, seperti filem-filem kontemporer, filem eksperimental, filem klasik, dan filem-filem yang dianggap penting dalam sejarah sinema dunia. Dalam hal ini indikasi “kesuksesan” Sinema Pojok tidak ditakar dengan jumlah penonton yang banyak, melainkan kemampuannya untuk tetap konsisten menghadirkan keberagaman itu.

____________________________

Albert Rahman Putra

Postingan Terkait

Albert Rahman Putra (Solok, 31 Oktober 1991) adalah lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Pernah terlibat dalam Proyek Seni DIORAMA Forum Lenteng. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *