Nostalgia Kultur Sinema di Batu Kubung

Sabtu, 26 September 2015 lalu adalah sebuah peristiwa yang sarat sejarah bagi masyarakat Perumahan Batu Kubung. Setelah cukup lama absen, sinema sebagai kultur massa kembali menghiasi ruang publik masyarakat Perumahan Batu Kubung. Malam yang menjadi malam pembubaran panitia 17-an Agustus lalu, pemuda Perumahan Batu Kubung menggelar penayangan filem.

Bagi saya, kegiatan yang diinisiasi oleh WADADIBAKU atau Wahana Pemuda Pemudi Batu Kubung ini menggiring ingatan pada situasi puluhan tahun lalu, pada suasana layar tancap. Saya masih ingat, sebelumnya, semasa masih dibangku Sekolah Dasar, di tempat yang sama, dilapangan yang sama, setiap 17-an juga digelar kegiatan layar tancap. Namun, suasana itu telah lama hilang seiring dinamika kultur sinema di Solok. Belakangan ini, sinema sebagai kulutur massa hanya bisa ditemui di ruang-ruang privat, ruang keluarga maupun kamar. (baca juga: Nostalgia Layar Kejayaan)

Filem yang diputarkan adalah filem-filem bermuatan lokal. Filem pertama adalah Harimau Tjampa yang disutradarai oleh D. Djajakusuma, dan filem kedua adalah Narayena, karya sineas lokal, Prima Genta S.

Filem Harimau Tjampa adalah salah satu filem yang cukup penting dalam sejarah sinema Indonesia. Filem ini memiliki garapan yang cukup khas baik dari segi esteika, konten isu, terutama estetika musikalnya. Filem yang dirilis pada tahun 1953 ini sempat memenangkan beberapa nomor nominasi, diantaranya: sebagai skrenario terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1955, musik latar terbaik FFA, Singapura, tahun 1955. (sinopsis filem silahkan cek di: Dokementasi Perfileman Indonesia)

Dari segi estetika musik filem ini meningatkan kita tentang fungsi tradisi nyanyian di Minangkabau. Dalam tradisi pertunjukan randai misalnya, dendang yang dinyanyikan berisi cerita yang juga dikenal dengan “kaba”, semacam narasi yang menjadi penghantar sebuah adegan-adegan, menggambar situasi berikutnya dalam pergantian setting, atau menarasikan hal-hal yang tidak bisa dicapai dalam tradisi teater rakyat itu.

Di tengah dominasi gaya Holliwood, di wajah filem bioskop Indonesia saat ini, pilihan Harimau Tjampa menjadi kurasi yang penting untuk dikaji sebagai usaha menemukan bahasa filem lokal.

Filem berikutnya, adalah filem dokumenter dengan isu bermuatan lokal. Filem yang disutradarai Prima Genta S, ini berjudul Narayena, kisah seorang pelajar yang tinggal di daerah yang cukup terpencil di darah Solok. Daerah yang tidak begitu jauh dari lokasi pemutaran ini. Terlihat di tengah pemutaran filem, banyak penonton yang bersorak mengenali lokasi dan wajah-wajah yang muncul dalam filem. Kemirisan yang pilih filemmaker, sebenarnya cukup sampai dan bisa dipahami warga yang menonton malam itu, banyak warga yang berdecik kagum dengan aksi sang filmmaker, sarat pesan moral, dan kritik terhadap situasi soasial disekitar.

Kegiatan semakin meriah dengan bertepatannya momen ini dengan suasana Idul Adha, disela pemutaran filem, ibu-ibu yang hadir ikut menyajikan daging sate hasil qurban untuk disantap bersama.

Nonton Harimau Tjampa, Arena Pemuda Batu Kubung

Nonton Harimau Tjampa, Arena Pemuda Batu Kubung

Suasana penonton

Suasana penonton

IMG_5164

IMG_5167 IMG_5115

Sambutan Ketua Pemuda

Sambutan Ketua Pemuda

IMG_5147 IMG_5136

IMG_5084

Ibu-ibu meembagikan sate

Dayat (perupa) menanggapi isu sosial yang ditangkap dari filem Narayena (Prima Genta S)

Dayat (perupa) menanggapi isu sosial yang ditangkap dari filem Narayena (Prima Genta S)


Postingan Terkait

Albert Rahman Putra (Solok, 31 Oktober 1991) adalah lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Pernah terlibat dalam Proyek Seni DIORAMA Forum Lenteng. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat.

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *