Mengenang Mendung

Suatu ketika, disaat langit menggelap mencari makna. Aku terdiam di bawah sudut kelam yang menghitam. Bayang awan yang menutup tabir mengingatkanku akan takdir. Lihatlah langit itu… Bukankah gelap menghanyutkan?, mendekap terang pada suatu petang. Kali ini aku bertanya pada mendung. Kenapa setiap kali dia datang hujan seakan berteriak untuk turun?. Kadang biru tak selalu haru, putih pun belum tentu menyaru. Kenanglah.. Mendung takkan pernah mau memberi hangat

Menatap langit hingga kalap Pecah.. Awan memainkan perannya Hingga biru tak lagi menyisa

Menatap langit hingga kalap Pecah.. Awan memainkan perannya hingga biru tak lagi menyisa

 

Semua tersembunyi. Matahari menghilang. Biru pulang berjuang. Hingga yang ada hanya aku mengenang

Semua tersembunyi. Matahari menghilang. Biru pulang berjuang. Hingga yang ada hanya aku mengenang

Mengenangmu seperti merindu mendung. Kemarau panjang tanpa ujung. Hingga suatu senja aku dihampiri mendung, membawakan setetes rindu kemudian menggunung.

Mengenangmu seperti merindu mendung. Kemarau panjang tanpa ujung. Hingga suatu senja aku dihampiri mendung, membawakan setetes rindu kemudian menggunung.

Sebutir pasir yang tersisa disore itu. Aku diam, hanya bisa diam. Kemudian mendung menuntunku kesuatu tempat dimana hanya ada aku dan khayal.

Sebutir pasir yang tersisa disore itu. Aku diam, hanya bisa diam. Kemudian mendung menuntunku kesuatu tempat dimana hanya ada aku dan khayal.

Kamu?. Apa yang kamu harap dari mendung? Kutunggu jawabmu dikala senja berganti malam.

Kamu?. Apa yang kamu harap dari mendung? Kutunggu jawabmu dikala senja berganti malam.

Seberkas sinar yang hampir hilang ditelan mendung. Sungguh aku ingin pulang padamu. Mendekapmu, dan meneriakkan rindu yang menderu.

Seberkas sinar yang hampir hilang ditelan mendung. Sungguh aku ingin pulang padamu. Mendekapmu, dan meneriakkan rindu yang menderu.

Aku beridri disini. Di tempat dimana aku bisa dengan kalap menatap mendung

Aku beridri disini. Di tempat dimana aku bisa dengan kalap menatap mendung

Puaskah?
Sudahkah kau tatap mendung sore ini?
Kenanglah aku, Kenanglah mendungmu…
____________________
Gabriella Melisa
Jakarta, 2014

Postingan Terkait

Gabriella Melisa, atau biasa disapa Igeb, adalah seorang petualang dari Nagari Cupak, Solok, yang juga aktif memproduksi karya-karya fotografi dan catatan perjalanan. Kini Igeb menetap dan bekerja di salah satu perusahan audit di Jakarta, dan terus bertualang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *