Petang di Kios Daging

 GBKPictStory – Petang di Kios Daging  adalah rekaman visual (fotografi) dari sepotong rutinitas di pasar daging Kota Solok. Petang di Kios Daging mencoba untuk memecah ilusi dan misteri yang selama menyelimuti pikiran kita (atau beberapa orang dari kita) tentang pasar daging dan siklus limbahnya.

kios daging 1Petang sekitar jam 5 Kios Daging sudah mulai sepi. satu persatu pedagang meninggalkan lapak mereka. Sebelum pergi terlebih dahulu membersihkan Kios. Lalu?

kios daging 4 kios daging 7Di salah satu sudut gedung ibu rose masih tetap duduk di bangku kesayangannya. “Kalau ayamnya sih untuk hari ini udah, ini lagi bersihin sayap buat di goreng untuk cemilan anak-anak. Dan satu lagi buntut, buat sate.” kios daging 8 kios daging 9kios daging 10Di belakang Gedung beberapa pedagang kios daging tengah membersihkan ember mereka dari darah sisa-sisa potong ayam pagi tadi. “Ntah untuk apa di bersihin, besok pagi juga bakal kotor lagi,” Pedagang Daging A “kalau darahnya terlalu lama dibiarin, baunya makin pekat.” Pedagang Daging B “Nggak cuma itu, ember yang udah dibersihin sekalian buat ngambil air untuk bersihin kios,” Pedagang Daging C

*** kios daging13

kios daging 2 Pak Jon membersihkan kiosnya. Menyiramkan meja kramik permanennya dengan air yang diambil dari sungai belakang kios. kios daging 6 Air yang digunakan membersihkan meja dari sisa-sisa darah terus mengalir ke selokan khusus. IMG_8692 Tersaring  di sini kios daging 12

kios daging 11Menuju Danau Singkarak bersama aliran Batang Lembang. ____________

Albert Rahman Putra dan Fandy Edwardo
Solok, 30 January 2014

Albert Rahman Putra, biasa disapa Albert, adalah seorang penulis, kurator, dan pegiat budaya. Merupakan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, dengan fokus studi pengkajian seni karawitan. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat. Manager Orkes Taman Bunga. Tahun 2018 bersama Forum Lenteng menerbitkan buku karyanya sendiri, berjudul Sore Kelabu di Selatan Singkarak. Ia merupakan salah satu kurator muda terpilih untuk program Kurasi Kurator Muda yang digagas oleh Galeri Nasional Indonesia, 2021.

0 comments

  1. yaya, kalau jalan didekat sana, melintasi jembatan yang didepan pasar tu bikin kita tahan napas. tapi siapalah pedagang, mentalnya ya cari uang, dinas pasar seharusnya bantu mengelola kebersihan lingkungan sekitar pasar,,,,
    semangat

  2. Salah satu bahan komposisi sedapnya danau Singkarak.. hehehe pantesan bilih enak.. 😀
    haha
    semoga aja volume air sungai mampu menetralkan volume darah yang datang setiap hari.

  3. Komentar menarik dari pak Renaldi Be di Facebook (Group: Bermuda Kota Solok) 6 April 2014 :
    Renaldi Be: “sebaiknya saya usulkan pada dinas pekerjaan umum untuk mengusulkan melalui dana apbn pusat untuk dibuatkan instalasi pengolahan limbah ( IPAL ) Mudah mudahan ini berguna untuk dpu kota solok”

    Semoga respon positif pak Renaldi Be dapat segera di realisasikan #ciiiihhhuuuy

    https://www.facebook.com/groups/180408885339405/689653807748241/?comment_id=690030584377230&ref=notif&notif_t=group_comment

    1. Kios daging ini tentunya hanya salah satu contoh. ada banyak ketidak seriusan oknum2 membangun fasilitas publik.

      Ayo pak Renaldi Be. anda bisa menjadi pahlawan. (mungkin bisa bilang terimkasih juga pada Gubuk kopi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.