Sang Pengibar Bendera

“The Spirit Of Paskibra”

Mentari menampakkan dirinya, udara pagi gemulaikan “Sang Merah Putih” yang jumawa disetiap halaman rumah. Terkagum-kagum, hari besar seluruh rakyat Indonesia itu telah tiba, pagi itu 66 tahun Indonesia Merdeka. Tidak di sengaja namun begitulah adanya, kali ini pesta berlangsung lagi di bulan suci.  Namun apakah puasa menjadi kendala bagi peserta /pelaku upacara?, terutama bagi mereka  sang pejuang muda yang mengibarkan kembali Bendera Merah Putih kita di ujung tiang tertinggi yang tergabung dalam Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRA).

Untuk mengibarkan bendera dengan sempurna di hari pesta, tentu mereka tidak memakai ilmu “abrakadabra”. Semuanya tentu butuh latihan dan proses. Tertarik untuk mendapat rahasia, bersama rekan rekan di Gubuak Kopi kami mencoba menggali lebih dalam semangat apa yang ada pada diri PASKIBRA. Sekaligus untuk memenuhi hasrat turut serta, kami memutuskan untuk mengadiri salah satu Upacara HUT RI ke-66. Kami memilih tempat terdekat saja, yaitu di GOR Batubatupang Kabupaten Solok, Sumatra Barat.

Setelah menikmati indahnya Upacara , kami rasa sudah waktunya untuk mencongkel rahasia si PASKIBRA. Dibalik lapangan upacara kami menjupai beberapa siswa yang tergabung dalam PASKIBRA yang sedang beristirahat walau hanya sekedar melepas lelah.

“Sesuatu yang tidak akan pernah terlupakan, mengibarkan sang saka merah putih di depan banyak orang dengan tangan hormat dikepala. Pada 17 agustus tahun ini kita masih terus Berjaya” itulah yang disampaikan Arif ketika kami menayakan bagaima perasaanya menjadi salah satu anggota PASKIBRA.

Arif adalah salah satu siswa dari SMA N 1 Sungai Lasi. Untuk bergabung dalam PASKIBRA Arif ternyata harus melewati dua seleksi. Seleksi pertama yakni dari pihak sekolah dan seleksi kedua adalah dari pihak Tutor PASKIBRA Kabupaten Solok.  Arif berhasil lolos dari kedua seleksi tersebut, itu sudah merupakan  sebuah prestasi yang luar biasa. Begitu banyak siswa yang ingin bergabung bersama PASKIBRA namun hanya orang orang tertentu saja yang dapat melakukanya.

                Ketika kami bertanya tentang proses latihannya, kami kaget ketika mereka berkata kalau mereka sudah latihan selama 22 hari di bulan puasa ini. Dari pagi hingga sore terus berproses, namun tetap berpuasa. Menurut Arif Puasa bukanlah suatu alasan mundur untuk memenuhi panggilan jiwa. Sungguh luar biasa semangat Sang Pejuang Muda.

“Agama juga menyuruh kita untuk mengabdi pada Negara. Lalu kalau kita mampu untuk menjalankan perintah Agama dan Negara sekaligus, kenapa tidak”, tambahan Arif.

Kami melanjutkan lagi pertanyaan, “Lalu bagaimana dengan kewajiban menuntut ilmu? Sekolah lebih tepatnya. Apa Arif tidak takut ketinggalan pelajaran?”

“kakak sendiri pasti juga sudah tahu, ilmu itu tidak hanya disekolah saja. Saya mendapatkan banyak ilmu selama proses latihan di PASKIBRA. Bahkan mendapat pengalaman yang luar biasa yang belum tentu bisa saya dapatkan disekolah. Insyallah setelah semua ini selesai saya akan mengejar ketinggalan pelajaran saya di sekolah.

“Apa saja misalnya yang Arif dapatkan  selama di paskibra?”

“Disiplin kak, kerja keras dan juga kekompakan. Pada awal latihan saya hampir menyerah karena kurang yakin dengan kemamuian saya sendiri. Tapi dengan Disipilin, kerja keras dan juga kekompakan semuanya menjadi semakin mungkin.”

“ Masih ingin ikut mengibar bendera nggak?”

“ingin banget kak. tapi kata pelatih hanya sekali ini saja karena untuk kesempatan berikutnya adalah jatah buat yang belum ikut. Tapi kapan pun saya diminta saya siap!”

“eh,,,, mau tanya balik nih kak. Kakak udah pernah ikut paskibra belum?”

“Tuuuuuuuut (*sensor)” Malu menjawabnya

                Lalu bagaimana dengan anggota PASKIBRA wanita?

Afri adalah salah satu siswi yang tergabung dalam barisan 45 di PASKIBRA Pada HUT RI ke-66 di GOR Batubatupang Kab. Solok lalu. Kami juga menanyai beberapa hal pada siswi asal SMA N 1 PANTAI CERMIN ini.

“Afri  ikut PASKIBRA ini keinginan sekolah atau keinginan sendiri?”

“Bisa dibilang ini adalah murni dari keinginan saya sendiri, karena dulu saya pernah bercita – cita ikut mengibarkan bendera di acara HUT RI”

“Bagi Afri, yang paling berharga selama jadi bagain dari PASKIBRA  ini apa?”

“Kedisiplinan serta keteraturan. Saya sadar sekali pentingnya kedisiplinan karena kedisiplinan tidak hanya dalam upacara saja. Namun dalam keseharianpun kita akan bertemu dengan kedisiplinan termasuk ketika kita ingin mencapai sesuatu.  Alhamdulliah bersama kawan – kawan di PASKIBRA Afri dapat belajar lebih dilsiplin lagi”

“17an kali ini kan berlangsung dalam bulan puasa, ada kendala nggak buat Afri sendiri selama proses latihan maupun di hari ‘H’?”

“sedikit jadi kendala sih kak. ketika latihan itu kami merayap, berlari, dan terus beridiri lama. Tapi karena semangat tadi, jadi bisa deh. Tapi,secara umum enggak masalah kok, para pejuang aja sampai mengorbankan nyawa untuk manaikkan bendera, nah sekarang kita cuma menaikkan bendera saja. Kan malu kalau puasa di jadikan masalah.”

“Moment apa yang paling berkesan menurut Afri ketika Upacara tadi?”

“Moment pas bendera lagi naik itu kak. Mengingat proses latihan kami yang panjang serta nyanyian Indonesia Raya  yang mendukung perasaan haru saya sampai-sampai saya meneteskan air mata.”

Wah wah wah… ironis memang ya, anak sekolah saja sampai menangis karena menghormati sang bendera kebesaran Republik  Indonesia, tapi kenapa ya pemimpin-pemimpin kepercayaan rakyat dikantoran itu masih saja tega menganytonggi hak Negara dan rakyat. Semoga para koruptor bisa sadar dan dibukakan kesadarannya oleh hikmatnya 17 Agustus ini.

“hah,!?? Nyambung  nggak ya?, tapi apa salahnya toh kalau kami berharap demikian”

by. team Gubuak Kopi

final editing by Uni Kyojack

*artikel terkait Poster “The Spirit Of Paskibra”

to see more photo about The Spirit Of Paskibra at Kabupaten Solok, click here

“Thanks For Visit Our Official Blog”

support us

Postingan Terkait

Albert Rahman Putra (Solok, 31 Oktober 1991) adalah lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Pernah terlibat dalam Proyek Seni DIORAMA Forum Lenteng. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat.

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *