Postmodern Hari Ini: Rumah Kenangan

 Rasakan Indahnya Nostalgia dirumah Penuh Kenangan

Selasa sore (2/8/2011) lalu tepatnya di hari kedua ramadhan 1432 H, saya bersama rekan saya di “Gubuak Kopi”  pergi JJS (jalan –jalan sore) atau yang biasanya disebut ngabuburit. Waktu itu rute kami berkeliling kearah kenagarian Cupak, Kabupaten Solok. Diperjalanan tidak sengaja kami bertemu sebuah rumah yang menarik perhatian kami . Rumah dengan design semi modern dan semi traditional.  Didekat rumah tersebut saya juga bertemu teman saya Argi yang kebetulan hangout di warung dekat rumah unik tersebut.

kami jadi segan ketika mengganggu Argi melepas sorenya. Argi mengenalkan kami pada pemilik rumah yang ternyata adalah etek (tante)-nya sendiri. Nama pemiliknya Emi Abas istri dari bapak Dt.Sutan yang kebetulan sedang keluar. Kami sedikit berbincang – bincang dengan etek Emi. Rumah itu ternyata sudah dibangun dari tahun 1968 oleh kakek nya. Dan dari tahun ke tahun telah mengalami beberapa renovasi.

Penulis dan Tek Emi

Penulis dan Tek Emi

Rumah ini memiliki 12 kamar yang tersebar dari di dua lantai. Lantai pertama sebanyak 5 kamar dan 7 kamar dilantai dua. Rumah tersebut rupanya merupakan rumah tempat berkumpulnya keluarga besar etek Emi ketika saudara – saudara pulang dari rantau. Biasanya rumah ini ramai pada hari lebaran dan apa bila ada rapat keluarga.“sabananyo iko dulu rumah tuo dari kayu, dek kayunyo lah lapuk jadi dipelok an jo.”(sebnarnya ini dulunya adalah rumah tua, karena kayunya sudah rapuh jadi terus direnovasi).  Ujar Etek Emi.

Pada dasarnya rumah ini adalah rumah tuo dengan bahan kayu yang tahun demi tahun melapuk kemudian terus direnovasi. Menurut etek emi, rumah yang kita lihat sekarang adalah rumah dari renovasi sekitar 10 tahun yang lalu. Rumah ini dibuat dengan teknik modern namun dengan konsep tradisional.

Sepintas terlihat rumah ini seolah olah didirikan dari potogan-potongan kayu. Namun sebenarnya tidaklah demkian, Pada dasarnya rumah ini berdiri dari bahan tembok kemudian dilapisi kayu. tujuannya  untuk mempertahankan kesejukan didalam rumah. “Tidak terlau panas dan tidak terlalu dingin” begitu ujarnya.

Lantainya berbahan kramik dengan warna putih dan coklat yang menyatu dengan setiap bangunan kayu. semua peraboan didalam maupun dilur rumah menyatu dalam satu suasana, yaitu Nostalgia. sebagai suatu rumah tempat berkumlnya sebuah keluarga besar, sudah sewajarnya dibangun dengan konsep demikian. Selain itu ukiran – ukiran tradisional Minangkabau yang biasa ditemui di “Rumah Gadang” juga dihadirkan di beberapa titik bagian di rumah tersebut untuk lebih mempertegas kesan klasik dan traditional rumah tersebut.

“rumah yang yang benar – benar nyaman. Nyaman dilihat, dan nyaman ditempati” ujar rekan saya Dian.


Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

0 comments

  1. uniQ dan keren 😉
    tp syg, jarang banget ya yang punya rumah etnik kayak gini sekarang..

  2. Den takana jo kampuang .. sangkek den basuliang-suliang ..
    induak, ayah, kakak dan adiak sadonyo den takana jo kampuang…
    bakumpua, bagalak basamo …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *